Showing posts with label Values. Show all posts
Showing posts with label Values. Show all posts

Wednesday, November 28, 2012

The Beauty of Batik on Rainy Jakarta

November rain still pour almost anytime of the day. Jakarta is in bleaky color pallet. Deep in the city, when the traffic jam is inevitable. The wilderness portrayed in the nuance of oldies sepia photos. The crowd and mud.  Between the dimly of twilight, few shocking color spread. Unnatural. Shocking red, green, and yellow neon lights. Where was the sight of red asoka flower, green shade of bamboo, or the yellowish frangiapani?  I bet most of us craving for beauty in any form on this sepia-colored situation.

There's a term for winter depression in the northern country. For me, rainy days in chaotic rush hour traffic of Jakarta is miserable. To tackle the gloomy ambiance I wear vibrant colored batik for my busiest day. Batik is Indonesian traditional fabric made from cotton or silk, dyed with wax-resist technique. I collect few of central java classic motif called "parang". These days, I wear most of my "batik pesisir" collection that genuinely come from the coastal area of northern java. This type of batik come in shade of vivid color tone. The "pesisir" motif usually more organic in design. It feature flowers, animal, and folklore in the pattern design.

Batik Parang Motif
People have their own way to connect with their inner-self. The child in us seek for pleasure in the real life of our adult body. In my case, the strategy to rise above the gloomy mood on rainy season is to wear something vibrant, artistic, and organic. What is more convenience than wearing vibrant colored batik in a moderate dose on your working days.

Rain can soothe your mood or irritate your plan. In this case, rainy season arouse the needs of beauty in vibrant colors. I found it in the Indonesian heritage, batik. Lets enjoy rainy Jakarta in the colorful tone of batik!

Rest a while from the traffic jam.
I wore pink "batik pesisir" from Pekalongan 
with butterfly and flower motif.








Tuesday, November 15, 2011

Saya Bangga Jadi Tumblerarian!


Jujur saja sepuluh tahun sebagai vegetarian, sampai saat ini saya belum sepenuhnya pemakan sayur saja. Masih lakto-ovo vegetarian, makan telur hayuk, produk susu juga nggak nolak. Malah udah beberapa tahun ini kadang makan seafood. Tolong jangan sodorin saya kerang dan salmon, bisa habis dalam sekejap.

Sama aja jadi pengguna wadah tempat minum alias tumblerarian juga belum sepenuh kuasa--walau niat sudah sepenuh hati. Kadang kala, ketika sedang melanglang berpetualang kepentok dengan keadaan di jalan. Tidak bisa isi ulang air minum dari keran, jadilah isi ulangnya dari botol air minum kemasan juga. Walau begitu, saya tetap bangga jadi tumblerarian! Lebih sedikit botol plastik, untuk dunia yang lebih baik.

Tumbler gendut saya yang setia menemani

Ini ada cerita dari petualangan saya di Jalur Sutra bulan Mei kemarin. Bermula di suatu toilet super bersih di Tashkent, Uzbekistan. Demi niat menjadi tumblerarian yang berdedikasi, saya isi tumbler dengan air dari keran wastafel loh. Habis, waktu saya cicipi airnya cukup enak  dan jernih. Lagian setelah itu saya campur dengan satu sloki Gin sih, sebagai penetralisir dan desinfektan. Airnya jadi tambah segar dengan bau herbal ala Inggris dari air suci saya. 

Harap resep ini jangan ditiru kalau tidak bermental nekat, hanya dalam keadaan khusus. Hasilnya, saya masih terbukti sehat walafiat loh selama lima hari kemudian minum dari botol dengan cara begitu, hemat dan nggak nyampah botol plastik. Hidup air keran dan Gin!

Tuesday, November 8, 2011

Mongolian Steppe Riders


Horse is the most important animal in the cultural history of Mongolia. The vast landscape of 1,564,000 square km , inhabited by population about more than two million people, making it as one of the most sparsely populated areas in the world. Therefore, no surprise that most of the free spaces occupied with horses for more than two and half million population.



From the context of socio-ecology, the relationship between man and horse has shaped an entity that is quite incomparable anywhere else in the world. No Mongolian nomads are happy going on foot. They are horse rider. It is a normal situation between the nomads in the steppe to witness small children sat on the horseback before they can even walk. They were born from a woman, but they surely live with horses for the rest of their life.



In the steppe, we can easily find saddled horses tied to the rope or left to graze unsupervised next to the ger. This animals are so dear in the heart of the Mongols, that it has always have a name and people share the story about their horses among acquaintance. This is particularly true for the Mongols, for whom the horse is still a fundamental part of life, a symbol of status, and a trusted friend.

Monday, October 31, 2011

Wrestling Pal for Edi


Edi or Edward V is a bachelor from the city of Archduke, Vienna. His height around 1,87 meters and has baby face on Samson posture. Tall, sturdy, smiley face, with long brown hair, and Wookiee voice-- he really was a human incarnation of Chewbacca. That was the moment he got his nickname, Chewie.

Chewie sleep over the vast steppe.

Just like these-day Vienna young inhabitants, his true interest was in the art of mocking and sarcastic praise. He called me 'Princess' to tease my hygiene habit and good manner words. So there we were, the Princess and Chewie,  driving the horseland in the Planet Steppe. All we need to find was the Jedi. Defeat  the bumpy road, three days with minimum size of beer, and a painful introduction to the intellectual demands of group's life philosophy, Edi need a pal to release his frustrations. Wrestling field was the answer.

As one of my companion during the Mongolia trip, Edi has shared a lot of his brilliant wisdom about shamanism. As well as his vast knowledge about the way they got "high" or trance in a manner way, and his beautiful skeptic mind toward the spirits world. I was sure Edi realized that it took more than cute big grin to survive in Mongolia, and it included wrestling.

Monday, September 19, 2011

While It Does Last


What happened to my life lately, if I could tell you there's not much, clearly. Those of you might have hustle and bustle life than I did in the past month. I soaked my self on my study, writings, culture consultant job for Korean company,  and some short travel. The WOW news was, I'm on diet.
 
Wake up this morning, I felt uneasy. I went downstairs to get my breakfast. Wholewheat breads and chunky peanut butter looked yummy on the marble table. Too bad, I was on my second day diet and a cup of black coffee was my only treat for a starter.

I'm not a coffee person, but if the diet menu require me to do so, then I follow. As I can remember, that caffeine drink and I didn't get along well. It usually happened to be bad. The case was, I finished one glass of it on my working table while I was doing lot of assignments on my computer. 

My hands begun to tremble and my heart beat fast. At first I thought it's only a thrill effect of my comeback in social media. From my previous travel, I couldn't had chance to chirping on Twitter, Facebook, and so on. But then I realized, it's a caffeine shock.

Then I got dizzy. I know the problem was from the coffee. People like me cannot sip it and sit down peacefully. The caffeine input was an alarm for my body to move my muscles, gain sweat, do the rubbish run, and so on. 
 

I took short biking to the nearest green space, the caffeine shock finally subsided. The clock showed time around eleven. It was great to have intermezzo like this under the branches of trees. I lay my self on the grass and think about my weight loss program.

Friday, June 3, 2011

Denting Dawai Doktor Komuz


Kali ini, di antara bukit hijau kaum nomaden Kirgizstan saya menemukan bagian yang paling orgasmik dari keseluruhan hari. Matahari saat itu sedang agak kelabu, sekitar jam tiga sore di awal bulan Mei 2011. Sebelum mencapai gunung bersalju, saya harus berkendara melintasi dataran tinggi Kirgiz yang seperti bentangan karpet menghijau. 

Sampai di ketinggian hampir tiga ribu meter di atas permukaan laut, saya dan grup beristirahat di sebuah yurt yang dijadikan tempat peristirahatan dan kedai teh. Tidak disangka di sana ada beberapa rombongan akademisi yang mau menyambut delegasi penting dari Cina dengan nyanyian khas Kirgiz. Jadilah kami menonton mereka latihan musik dengan komuz (gitar tradisional Kirgiz).



Di antara pemain, ada satu yang sangat menonjol, dia seorang doktor dari Universitas Bishkek. Namun, sayang sekali saya lupa menuliskan namanya yang cukup sulit untuk diingat. Masih terngiang ketika saat itu saya bertanya apa yang membuatnya begitu dalam menghayati permainan komuz. Dia tersenyum dan menjawab,

"Ketika saya memegang komuz dan mulai memainkannya, saya lupa pada segala masalah. Diri saya menjadi sensitif," ujarnya.

Saturday, March 19, 2011

Bukan Barang Wajib tapi Berguna



    Bagi pejalan pemula, ada beberapa tips dari saya sebelum melakukan perjalanan. Tentu saja, sebelum mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa, sebaiknya pikir dulu mengenai bentang alam tempat yang akan dituju, musim, orang dan budaya setempat.

  1. Leging
  2. Apabila kamu bepergian ke pegunungan atau negara non tropis di waktu musim dingin mulai dari November sampai Februari, tidak ada salahnya untuk membawa leging yang cukup tebal. Ingat, bukan stoking loh. Leging sangat bermanfaat, baik dipakai sebagai bawahan atau dalaman rok dan jeans sekalipun. Kamu bisa pilih pakai leging semata kaki atau leging penuh sampai ujung kaki seperti penari balet.

    Suatu waktu saya sempat ditertawakan karena menganjurkan leging sebagai barang bawaan kepada teman pria saya untuk dibawa, memang kesannya tidak macho. Namun, di tengah cuaca dingin, leging dapat menjadi kulit kedua kamu yang menghangatkan loh, dan sangat fleksibel sehingga tidak akan menghambat gerak. Terbukti teman pria saya itu menyesal tidak memakai leging di bawah jeansnya ketika kami harus mulai trekking di Hsipaw pada jam  4 pagi untuk melihat sunrise di ketinggian   perbukitan Myanmar. Saat itu di awal Januari, terbayang kan dinginnya, brrr!

    Percayalah, apa yang kamu pikir tidak tepat itu akan bekerja sesuai fungsinya di saat yang paling tepat, tidak ada salahnya bersiap, bukan? 

  3. Antihistamin
  4. Jangan terlalu banyak membawa obat, beberapa obat standar cukup mudah ditemukan di mana saja. Jadi lebih baik siapkan obat-obat yang dibutuhkan di kala mendadak, dan sulit ditemukan selain di apotek besar.

    Sejauh ini, antihistamin tidak pernah mengecewakan saya. Tidak semua orang diberkati dengan daya tahan tubuh yang selalu fit. Beberapa orang memiliki alergi yang mudah dipicu oleh perubahan suhu dan udara, seperti saya. Antihistamin bisa menangkal itu. Selain itu, saat radang tenggorokan atau gejala demam, obat ini juga dapat membantu untuk mengurangi radang yang terjadi. Selalu cek kualitas asupan makanan ketika bepergian. Kalau sehat kan jalan jadi enak.

Saturday, January 29, 2011

Air Suci Ratu Inggris


Favorit Ratu Inggris
Bagi yang suka nongkrong di kafe dan bar pastinya sudah akrab dengan jenis minuman jenis spirits yang bernama Gin.  Minuman satu ini konon adalah favoritnya Ratu Elizabeth II. Sang Ratu konon meminta beberapa teguk dari minuman ini setiap selesai makan siang.

Lalu apa hubungannya Gin dengan jalan? Hampir di setiap kesempatan jalan saya hampir selalu membawa air suci Ratu Inggris ini. Sebagai pejalan, tidak di semua daerah destinasi kita akan mendapat makanan dan minuman yang sesuai dengan selera perut. Jangan ngomongoin selera atau enak nggak enak dulu deh. Kadang bisa dicerna baik sama tubuh aja udah bagus. Udah syukur nggak jadi sakit gara-gara makanan dan minuman yang kurang cocok. 


Sunday, January 23, 2011

Seperti Cara Zuzana

Sepanjang hari ini memang aneh. Satu orang yang paling beda dari kami, Zuzana menghilang entah berapa kali selama perjalan kami ke beberapa pagoda di Pyay. Setiap kali saya menemukannya, dia selalu dalam keadaan trans dengan segenggam karkoal di tangan atau sedang menggambar di atas buku sketsa. Siang ini saya bilang kalau seharusnya kami sudah pergi dari pagoda Shwesandaw untuk melanjutkan perjalanan. "Kasihan teman lain yang menunggu," saya bilang. Tapi percuma, dia memang seniman sejati. "Oh, sebentar," begitulah dia membalas. Buat dia, waktu dan ruang bukanlah hal penting.

Zuzana Kalinakova di tepi sungai Irawadi, Myanmar

Ratusan orang di sana mungkin tahu bagaimana cara berpura-pura baik. Dia tidak seperti itu. Walau umurnya sudah lebih dari kepala tiga, ada gairah seni yang membuat sisi kanak-kanaknya tetap hidup. Di antara teman dan orang asing, dia memang tersendiri.

Dia melakukan apa yang dia suka dengan sangat tekun. Sapuan karkoal dan kuas di bukunya adalah proyeksi diri yang paling jujur. Tidak peduli orang menilai apa. Masa bodoh juga kalau teman yang lain tidak suka dia sering terlambat. "Toh, ini jalan-jalan bukannya waktu presentasi bisnis,"  ujarnya kalem. Dia hanya menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri. Hanyut dalam pemikiran sekilas. Saya pergi dengan perasaan seperti baru mendapat tamparan di wajah.