Friday, June 3, 2011

Denting Dawai Doktor Komuz


Kali ini, di antara bukit hijau kaum nomaden Kirgizstan saya menemukan bagian yang paling orgasmik dari keseluruhan hari. Matahari saat itu sedang agak kelabu, sekitar jam tiga sore di awal bulan Mei 2011. Sebelum mencapai gunung bersalju, saya harus berkendara melintasi dataran tinggi Kirgiz yang seperti bentangan karpet menghijau. 

Sampai di ketinggian hampir tiga ribu meter di atas permukaan laut, saya dan grup beristirahat di sebuah yurt yang dijadikan tempat peristirahatan dan kedai teh. Tidak disangka di sana ada beberapa rombongan akademisi yang mau menyambut delegasi penting dari Cina dengan nyanyian khas Kirgiz. Jadilah kami menonton mereka latihan musik dengan komuz (gitar tradisional Kirgiz).



Di antara pemain, ada satu yang sangat menonjol, dia seorang doktor dari Universitas Bishkek. Namun, sayang sekali saya lupa menuliskan namanya yang cukup sulit untuk diingat. Masih terngiang ketika saat itu saya bertanya apa yang membuatnya begitu dalam menghayati permainan komuz. Dia tersenyum dan menjawab,

"Ketika saya memegang komuz dan mulai memainkannya, saya lupa pada segala masalah. Diri saya menjadi sensitif," ujarnya.

Sunday, April 17, 2011

Photostoria: West Coast Aceh's Road Less Travelled



Banda Aceh-Meulaboh highway span approximately 240 km 
on the west coast of Aceh. This highway is important to 
connect the capital Banda Aceh to the trading hub of Meulaboh.



After tsunami in 2004 hit the west coast of Aceh, the Lambeso River Bridge was swept away by tremendous waves. The loss made damage to the transportation routes between region, thus set hurdles to the local economy. As an instant solution, locals established a makeshift ferry to cross the Lambeso river.



The rough and ready ferry, when there's no other choice.


Saturday, March 19, 2011

Bukan Barang Wajib tapi Berguna



    Bagi pejalan pemula, ada beberapa tips dari saya sebelum melakukan perjalanan. Tentu saja, sebelum mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa, sebaiknya pikir dulu mengenai bentang alam tempat yang akan dituju, musim, orang dan budaya setempat.

  1. Leging
  2. Apabila kamu bepergian ke pegunungan atau negara non tropis di waktu musim dingin mulai dari November sampai Februari, tidak ada salahnya untuk membawa leging yang cukup tebal. Ingat, bukan stoking loh. Leging sangat bermanfaat, baik dipakai sebagai bawahan atau dalaman rok dan jeans sekalipun. Kamu bisa pilih pakai leging semata kaki atau leging penuh sampai ujung kaki seperti penari balet.

    Suatu waktu saya sempat ditertawakan karena menganjurkan leging sebagai barang bawaan kepada teman pria saya untuk dibawa, memang kesannya tidak macho. Namun, di tengah cuaca dingin, leging dapat menjadi kulit kedua kamu yang menghangatkan loh, dan sangat fleksibel sehingga tidak akan menghambat gerak. Terbukti teman pria saya itu menyesal tidak memakai leging di bawah jeansnya ketika kami harus mulai trekking di Hsipaw pada jam  4 pagi untuk melihat sunrise di ketinggian   perbukitan Myanmar. Saat itu di awal Januari, terbayang kan dinginnya, brrr!

    Percayalah, apa yang kamu pikir tidak tepat itu akan bekerja sesuai fungsinya di saat yang paling tepat, tidak ada salahnya bersiap, bukan? 

  3. Antihistamin
  4. Jangan terlalu banyak membawa obat, beberapa obat standar cukup mudah ditemukan di mana saja. Jadi lebih baik siapkan obat-obat yang dibutuhkan di kala mendadak, dan sulit ditemukan selain di apotek besar.

    Sejauh ini, antihistamin tidak pernah mengecewakan saya. Tidak semua orang diberkati dengan daya tahan tubuh yang selalu fit. Beberapa orang memiliki alergi yang mudah dipicu oleh perubahan suhu dan udara, seperti saya. Antihistamin bisa menangkal itu. Selain itu, saat radang tenggorokan atau gejala demam, obat ini juga dapat membantu untuk mengurangi radang yang terjadi. Selalu cek kualitas asupan makanan ketika bepergian. Kalau sehat kan jalan jadi enak.

Friday, February 11, 2011

Photostoria: Pyay Children in Shin Pyu Ceremony


One afternoon in the mid January I stopped in Pyay on my bus trip from Yangon to Bagan. The curiosity crawled to my head to saw the people that filled half of the road. I was wondering what kind of ceremony took placed at that time. And it was worth for a stop back then. The people celebrated the Shin Pyu ceremony, the initiation rite when a child become a monk.



This boy's cheek dressed with tanaka. A traditional sun protective traditional make up. It made from wooden plant, dust into powder in a stone grinder.


Saturday, January 29, 2011

Air Suci Ratu Inggris


Favorit Ratu Inggris
Bagi yang suka nongkrong di kafe dan bar pastinya sudah akrab dengan jenis minuman jenis spirits yang bernama Gin.  Minuman satu ini konon adalah favoritnya Ratu Elizabeth II. Sang Ratu konon meminta beberapa teguk dari minuman ini setiap selesai makan siang.

Lalu apa hubungannya Gin dengan jalan? Hampir di setiap kesempatan jalan saya hampir selalu membawa air suci Ratu Inggris ini. Sebagai pejalan, tidak di semua daerah destinasi kita akan mendapat makanan dan minuman yang sesuai dengan selera perut. Jangan ngomongoin selera atau enak nggak enak dulu deh. Kadang bisa dicerna baik sama tubuh aja udah bagus. Udah syukur nggak jadi sakit gara-gara makanan dan minuman yang kurang cocok. 


Sunday, January 23, 2011

Seperti Cara Zuzana

Sepanjang hari ini memang aneh. Satu orang yang paling beda dari kami, Zuzana menghilang entah berapa kali selama perjalan kami ke beberapa pagoda di Pyay. Setiap kali saya menemukannya, dia selalu dalam keadaan trans dengan segenggam karkoal di tangan atau sedang menggambar di atas buku sketsa. Siang ini saya bilang kalau seharusnya kami sudah pergi dari pagoda Shwesandaw untuk melanjutkan perjalanan. "Kasihan teman lain yang menunggu," saya bilang. Tapi percuma, dia memang seniman sejati. "Oh, sebentar," begitulah dia membalas. Buat dia, waktu dan ruang bukanlah hal penting.

Zuzana Kalinakova di tepi sungai Irawadi, Myanmar

Ratusan orang di sana mungkin tahu bagaimana cara berpura-pura baik. Dia tidak seperti itu. Walau umurnya sudah lebih dari kepala tiga, ada gairah seni yang membuat sisi kanak-kanaknya tetap hidup. Di antara teman dan orang asing, dia memang tersendiri.

Dia melakukan apa yang dia suka dengan sangat tekun. Sapuan karkoal dan kuas di bukunya adalah proyeksi diri yang paling jujur. Tidak peduli orang menilai apa. Masa bodoh juga kalau teman yang lain tidak suka dia sering terlambat. "Toh, ini jalan-jalan bukannya waktu presentasi bisnis,"  ujarnya kalem. Dia hanya menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri. Hanyut dalam pemikiran sekilas. Saya pergi dengan perasaan seperti baru mendapat tamparan di wajah.

Tuesday, December 28, 2010

Photostoria: Jejak Kaki di Sangalaki

Boat jetty goes straight to the turquoise blue horizon.



Sea pandan flower aroma was in the air!


Almost drifted root of shrubs plant. Close to the water.